Komponen Pembentukan Manusia
Manusia sesungguhnya terbentuk dari tiga komponen, yaitu ruh, nafs dan jasad. Nafs sering disebut sebagai jiwa. Kebanyakan orang sekarang ini hanya mengetahui bahwa manusia hanya terdiri dari unsur ruh dan jasad saja. Sedikit sekali orang yang tahu adanya komponen nafs, dan sedikit sekali yang mengerti perbedaan antara ruh dan nafs. Bahkan Imam Al Ghazaly (1058-1111M) mengatakan bahwa ulama yang masyhur pada zaman tersebut, sedikit sekali yang mengerti perbedaan antara keduanya. Padahal sekiranya seseorang mengerti perbedaan keduanya, maka banyak persoalan di dalam Al-Quran menjadi terbuka baginya.
RUH
Dalam bahasa Al-Quran, disebut dengan Ar-Ruh (jamaknya arwah), yang asal unsurnya adalah dari Ruh Allah yang ditiupkan ke manusia saat janin berumur 4 bulan.
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal fikiran); (supaya kamu bersyukur, tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. (QS. As Sajdah [32] : 9)
(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya". (QS. Sad [38] : 71-72)
(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya". (QS. Sad [38] : 71-72)
Ketika syaithan menyusuri aliran darah manusia ia sampai pada sebuah tempat yang tidak dapat menembusnya. Inilah qalbu tempat bersemayamnya Ruh.
Bagi nafs, ruh berfungsi memberikan energi (makanan). Sedangkan bagi jasad ia memberi nyawa (sukma).
Merujuk firman Allah dalam Al-Quran, ruh merunjuk kepada 3 jenis:
1. Ruh Al Amin
Kata Ruh Al Amin menunjuk kepada Malaikat Jibril.
Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muahammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. (QS Asy Syuaraa [26] : 192-194)
Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muahammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. (QS Asy Syuaraa [26] : 192-194)
2. Nafakh Ruh
Inilah yang ditiupkan kedalam jasad manusia, saat ia berumur 4 bulan dalam kandungan. Yang menjadi energi buat nafs dan sebagai nyawa (sukma) bagi jasad.
3. Ruh Al Qudus
Ruh Al Qudus merupakan perkembangan Nafakh Ruh, dimana Allah Ta’ala mentajalli (merealitas) dalam diri manusia.
Katakanlah : "Ruhul Qudus menurunkan al-Qur'an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. Al Nahl [16] : 102)
Ruh Al Qudus atau Ruh Suci, yang merupakan rasulan min anfusihim (rasul dari diri setiap manusia) yang baru hadir menyala apabila jiwa muthmainnahnya telah sempurna.
Ruh Al Qudus atau Ruh Suci, merupakan rasulan min anfusihim (rasul dari diri setiap manusia) yang baru hadir menyala apabila qalbunya mendapat rahmat dari Allah Ta’ala.
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari diri mereka sendiri (Ruh Al Qudus), yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran [3] : 164)
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari dirimu sendiri (Ruh Al Qudus), berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap Al Mu'minin. (QS. At Taubah [9] : 128)
… Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada 'Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruh Al Qudus … (QS. Al Baqarah [2] : 87)
… Dan Kami berikan Nabi Isa ibni Maryam beberapa keterangan kebenaran (mukjizat), serta Kami kuatkan dia dengan Ruhul-Qudus (QS. Al Baqarah [2] : 253)
(Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Wahai Isa ibni Maryam! Kenanglah nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu, ketika Aku menguatkanmu dengan Ruhul-Qudus (Jibril), iaitu engkau dapat berkata-kata dengan manusia (semasa engkau masih kecil) dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) ketika Aku mengajarmu menulis membaca, dan hikmat pengetahuan, khasnya Kitab Taurat dan Kitab Injil; dan (ingatlah) ketika engkau jadikan dari tanah seperti bentuk burung dengan izinKu, kemudian engkau tiupkan padanya, lalu menjadilah ia seekor burung dengan izinku; dan (ingatlah ketika) engkau menyembuhkan orang buta dan orang sopak dengan izinku; dan (ingatlah) ketika engkau menghidupkan orang-orang yang mati dengan izinKu; dan (ingatlah) ketika Aku menghalangi Bani Israil daripada membunuhmu, ketika engkau datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat), lalu orang-orang yang kafir di antara mereka berkata: “Bahawa ini hanyalah sihir yang terang nyata” (QS. Al Maidah [5] : 110)
Apabila Ruh Al Qudus telah menyala, maka jadilah qalbunya mampu memeluk Zat Allah Ta’ala.
Berkata Wahab bin Munabbih, bahawasanya Rasulullah SAW telah bersabda : Allah Ta’ala telah berfirman : "Sesungguhnya semua petaka langit dan bumi akan menjadi sempit untuk merangkul Zat-Ku, akan tetapi Aku mudah untuk dirangkul oleh Qalnu Al Mu’minin." [HR. Ahmad]
Qalbunya menjadi rumah Allah Ta’ala (bait Allah Ta’ala). Maka orang-orang seperti ini disebut Ahli Al Bait.
Lihat QS. Hud [11] : 72-74 bagaimana Sarrah (istri Ibrahim A.S) pun disebut sebagai Ahli Al Bait.
Dan hendaklah kamu tetap diam di rumah kamu serta janganlah kamu mendedahkan diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah zaman dahulu; dan dirikanlah sembahyang serta berilah zakat; dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah (perintahkan kamu dengan semuanya itu) hanyalah kerana hendak menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu – wahai “AhlulBait” dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya (dari segala perkara yang keji). (QS. Al Ahzab [33] : 33)
NAFS
Al Quran membahasakannya dengan An-Nafs (jamaknya anfus atau nufus), dimana asal unsurnya adalah dari cahaya. Di dalam bahasa sering diterjemahkan sebagai jiwa atau diri. Nafs inilah sesungguhnya hakikat dari manusia.
Sebagaimana Sabda, Nabi SAW, Man’arofa Nafsahu faqod ‘arofa rabbahu’. Barangsiapa mengenal nafsnya maka ia akan mengenal Tuhannya.
Nafs seperti jasad, memiliki mata, telinga, mulut, tangan, dsb. Bahkan bila nafsnya sehat, ia lebih bersih, lebih gagah, dan lebih cantik dibandingkan dengan jasad. Namun ia halus, tidak terindera oleh mata lahiriah.
Nafs seperti jasad, memiliki mata, telinga, mulut, tangan, dsb. Bahkan bila nafsnya sehat, ia lebih bersih, lebih gagah, dan lebih cantik dibandingkan dengan jasad. Namun ia halus, tidak terindera oleh mata lahiriah.
Nafs inilah yang melakukan perjalanan. Nafs mendapatkan energi untuk melakukan perjalanan kembali kepada Allah Ta’ala dari ruh. Sementara ruh bersemayam di dalam qalbu. Apabila qalbu bersih maka ruh dapat memberikan energi bagi nafs, sehingga nafsnya hidup sehat dan dalam Al Quran disebutlah sebagai Nafs Al Muthmainnah.
(Setelah menerangkan akibat orang-orang yang tidak menghiraukan akhirat, Tuhan menyatakan bahawa orang-orang yang beriman dan beramal soleh akan disambut dengan kata-kata): “Wahai orang yang mempunyai jiwa yang sentiasa tenang tetap dengan kepercayaan dan bawaan baiknya (Nafs Al Muthmainnah)!. “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan engkau berpuas hati (dengan segala nikmat yang diberikan) lagi diredhai (di sisi Tuhanmu) !. “Serta masuklah engkau dalam kumpulan hamba-hambaku yang berbahagia, “Dan masuklah ke dalam SyurgaKu! “. (QS. Al Fajr [89] : 27-28)
Antara qalbu dan nafs adalah ibarat kaca dan rasahnya bagi cermin. Apabila qalbunya rusak maka tiadalah berfungsi nafsnya. Apabila qalbunya tertutup dosa, maka terhijablah antara nafsnya dengan qalbunya. Sehingga ruh tidak dapat memberikan energi makanan untuk nafs. Maka nafsnya akan sakit, buta, tuli, bisu atau lumpuh. Dan bila nafsnya buta dan tuli, makan fungsi qalbu juga akan menjadi buta dan tuli.
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qalbu yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qalbu yang di dalam dada. (QS. Al Hajj [22] : 46)
Nafs yang melakukan perjalanan, melakukan perjanjian dengan Allah Ta’ala dalam Alam Alastu.
Nafs yang melakukan perjalanan, melakukan perjanjian dengan Allah Ta’ala dalam Alam Alastu.
Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap nafs mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabbmu". Mereka menjawab : "Betul, kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini". (QS. Al A’raf [7] : 172)
Untuk itulah ia yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala atas apa yang dilakukannya di dunia. Apabila ketika ia menghadapi ajal nafsnya dalam kondisi yang sakit, buta, tuli, bisu atau lumpuh, maka ia akan disiksa oleh Allah Ta’ala dalam kubur. Namun bila nafsnya dalam kondisi sehat, maka ia hidup di sisi Allah Ta’ala, dan dengan izin-Nya, dapat berjalan di tengah-tengah manusia, namun kebanyakan manusia tidak menyadarinya.
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al Baqarah [2] : 154)
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. (QS. An Anám [6] : 122)
JASAD
Jasad manusia, asal unsurnya dari bumi. Dan setelah ajal, akan kembali ke bumi kembali.
Dan Allah menumbuhkan kamu dari bumi dengan sebaik-baiknya (QS. Nuh [71] : 17)
Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (QS. Ta Ha [20] : 55)
Karena sifat kebumian, ketika ruh dan nafs ditiupkan ke dalam jasad, timbullah apa yang disebut hawa nafsu dan syahwat. Dengan kendaraan hawa nafsu dan syahwat inilah manusia dapat hidup di bumi.
Perbedaan antara hawa nafsu dan syahwat, adalah hawa nafsu bersifat bathiniah sedang syahwat lebih bersifat lahiriah. Contoh hawa nafsu : Sombong, marah, benci, keluh kesah, tergesa-gesa, dsb. Sedangkan contoh syahwat adalah kecintaan kepada lawan jenis, anak, harta, dsb.
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada syahwat, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran [3] : 14)
Hawa nafsu dan syahwat di Al Quran digambarkan sebagai binatang ternak yang harus digembalakan oleh nafs yang sehat (Nafsul Muthmainnah). Untuk itulah Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Setiap kamu adalah penggembala, dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu gembalakan?”.
Terjemahan yang banyak berkembang di masyarakat sekarang ini adalah “Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu pimpin?”.
Penggambaran hubungan antara jasad, nafs, qalbu dan hawa nafsu serta syahwat adalah ibarat kereta kuda. Dimana digambarkan hawa nafsu dan syahwat sebagai kuda-kuda, tali kekangnya adalah qalbu, saisnya adalah nafs dan muatannya adalah jasad.
Jika tidak ada kuda-kudanya, maka muatan kereta tidak akan dapat ditarik untuk berjalan. Sehingga sangat diperlukankan adanya kuda-kuda untuk menarik kereta. Namun kuda-kuda tersebut harus dikendalikan oleh seorang sais. Apabila saisnya sakit atau lumpuh maka kuda-kuda berlari-lari tidak terkendali membawa muatan.
Bila tidak ada hawa nafsu dan syahwat, maka manusia tidak akan dapat hidup di dunia ini. Ia tidak akan ada kemahuan untuk bekerja, untuk menikah, dsb. Untuk itulah hawa nafsu dan syahwat tidak boleh dimatikan. Tetapi dikendalikan oleh nafs. Yang kebanyakan terjadi pada manusia adalah, dimana nafs sebagai sais sakit atau lumpuh, sehingga hawa nafsu dan syahwatnya berlari kesana kemari membawa jasad.
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (QS. An Nazi’at [79] : 40-41)
Sesungguhnya hawa nafsu itu membawa kepada keburukan, sedangkan nafs (nafs al muthmainnah) adalah nafs yang diberi rahmat.
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yusuf [12] : 53)
Dengan membiarkan aktiviti diatur oleh hawa nafsu dan syahwat, maka ia telah melakukan dosa. Semakin sering hal ini dilakukan, maka semakin teballah noda-noda dosa menutupi qalbu.
Akibatnya qalbunya semakin keras. Bahkan lebih keras daripada batu.
Kemudian setelah itu qalbumu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Baqarah [2] : 74)
Akibatnya sedikit demi sedikit ia mulai tersesat dari jalan Allah Ta’ala (Shirath Al Mustaqiim).
... maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. Sad [38] : 26)
S h i r a t h A l M u s t a q i i m



























